Cryptocurrency Makanan Manis Bagi Para Hacker

 Cryptocurrency Sasaran Hacker

Cryptocurrency atau Mata uang kripto semakin bernilai dan membuat para peretas tertarik untuk mendapatkannya dengan mudah. Mereka lantas mengintai sisi lemah pengguna dan penyedia layanan wallet dan bursa untuk mencuri mata uang berharga tersebut.

Menyimpan cryptocurrency di perangkat elektronik, ibaratnya seperti membawa uang dalam dompet. Mata uang kripto yang tersimpan di aplikasi dompet kripto di perangkat pengguna memang rentan dicuri peretas. 

Sebab, aplikasi tersebut terhubung ke internet. Terutama ketika peretas berhasil mendapatkan private key yang dipakai pengguna untuk bertransaksi. Private key adalah baris kode khusus yang dimiliki pengguna. 

Tak cuma aplikasi dompet uang kripto yang rentan diretas. Tapi juga perusahaan yang menyediakan layanan wallet tersebut, bahkan perusahaan bursa kripto juga jadi sasaran. Beberapa waktu lalu, bursa (exchanger) uang kripto Bithumb di mengungkap peretas berhasil mencuri Rp442 miliar.


Oleh karena itu, keamanan menjadi salah satu isu yang selalu menghantui para pemain uang kripto. CEO layanan dompet digital dan perusahaan bursa (exchanger) uang kripto, Yusho Liu mengatakan untuk mengamankan mata uang kripto, salah satu metode yang biasa digunakan adalah Hot Storage dan Cold Storage.

Yusho menjelaskan Hot Storage adalah media penyimpanan uang kripto yang terkoneksi dengan internet (online). Yusho menyebut Hot Storage ini nyaman tapi beresiko terhadap penyerangan peretas. Sementara Cold Storage adalah media penyimpanan yang bisa dilakukan tanpa terhubung dengan internet (offline).

Kebanyakan penyedia jasa uang kripto memang memecah aset nasabah ke dalam dua penyimpanan ini. Hal ini dilakukan untuk memberikan jaminan kepada nasabah. Jadi jika Hot Storage dibobol, maka masih ada aset nasabah yang tersisa di Cold Storage.


"Hot dan Cold memang biasa untuk digunakan dalam mengamankan uang, Jika Hot Storage yang diserang peretas, tidak keseluruhan kena dampaknya. Komposisinya kurang lebih 90 persen Hot Storage, 10 persen Cold Storage," ujar Yusho.

Kendati demikian, Yusho mengatakan metode ini memang akan membuat nasabah agak kurang nyaman. Pasalnya setiap nasabah membutuhkan alamat dengan private key yang berbeda setiap ingin mengirimkan aset dari Hot Storage ke Cold Storage. Jadi nasabah memerlukan alamat baru untuk menerima transaksi aset tersebut.

"Memang tidak nyaman dibandingkan menggunakan Hot Storage keseluruhan. Kalau efisiensi memang agak lebih rumit karena ada proporsi pembagian ini. untuk keamanan memang lebih membantu," kata Yusho.
LihatTutupKomentar